9 Perilaku yang Menurut Pria Mengekang

Kamu pikir, semuanya baik-baik saja, sampai suatu hari, dia menjatuhkan bom. Katanya dia merasa terkekang. Mungkin kamu kaget, tapi sebenarnya tanpa sengaja kamu sering melakukan sesuatu yang membuat dia merasa terbebani. Kali ini, pembaca pria kami membagikan pengalaman mereka dengan situasi pengekangan tersebut.

  • 1. Kamu selalu meminta dia mengatakan, “Aku cinta kamu.”

    No image

    Siang malam kamu meminta dia mengucapkan tiga kata ini. Lama-lama dia jengkel. Pada awal hubungan, dia mungkin mau-mau saja, tapi setelah hubungan makin mapan, dia merasa permintaan itu menjadi beban yang sebenarnya tidak perlu. Daripada meminta dia mengucapkan tiga kata magis itu, simpan untuk kesempatan khusus dan nikmati saja momen menyenangkan bersamanya.

  • 2. Kamu ingin mengetahui semua detail tentang harinya.

    No image

    “Nanti kamu ketemu siapa? Jam berapa?” Kamu bukan agennya dan tidak perlu mengetahui semua jadwalnya. Jika selalu bertanya, jangan kaget kalau dia mulai merasa terkekang. Kalau kamu memang ingin tahu, tanyakan dengan singkat dan jangan menggali banyak detail.

  • 3. Kamu menelepon waktu dia keluar bersama teman-temannya

    No image

    “Kamu masih sama teman-temanmu?” Tentu saja. Ini malam rutin mereka berkumpul dan kamu sudah tahu itu. Sadar atau tidak, kamu berusaha membuat dia merasa bersalah karena menghabiskan waktu bersama teman-temannya, bukan denganmu. Cepat atau lambat, dia tidak mau lagi mengangkat telepon ketika keluar. Kamu harus memberi ruang. Pria juga ingin punya waktu sendiri.

  • 4. “Aku kesepian, aku ingin ketemu kamu.” Mengajukan permintaan egois

    No image

    Kamu sudah tahu dia sibuk dan tidak mungkin bisa bertemu sekarang. Tapi, kamu tetap meminta sesuatu yang tidak masuk akal dan egois. Permintaanmu menjadi faktor stres yang membuat harinya makin tegang, dan itu akan berdampak negatif pada produktivitasnya. Kalau kamu harus menelepon atau mengirim pesan, katakan sesuatu yang suportif untuk menyemangatinya supaya dia bisa menyelesaikan pekerjaan dengan baik.

  • 5. Dia harus membatalkan kencan dan kamu panik.

    No image

    “Kamu enggak cinta aku lagi?!” atau “Apa ada orang lain?” Terlalu banyak drama. Faktanya, dia ada urusan kerja mendadak dan harus menyesuaikan jadwal, itu saja. Reaksimu yang emosional membuat dia jengkel. Kamu harus belajar untuk tenang. Tapi, jika dia sering membatalkan kencan, bisa jadi ada kemungkinan hubungan akan berakhir. Dalam hal ini, kamu harus mengumpulkan keberanian untuk menanyakan padanya ketika ada waktu untuk bicara.

  • 6. Kamu menuntut dia menghapus semua kontak wanita dari ponselnya

    No image

    Kalau pasanganmu orang yang senang bergaul, daftar kontaknya pasti panjang. Kemungkinan setengah di antaranya adalah wanita. Memaksa dia untuk menghapus kontak hanya akan menimbulkan gesekan, dan siapa tahu, itu mungkin memaksa dia untuk kreatif menyimpan kontak dengan nama lain. Wajar jika kamu merasa cemburu, tapi percaya pada pasangan adalah salah satu kemampuan terpenting untuk membangun hubungan yang sehat. Supaya masalah seperti ini tidak mengganggu hubungan, tetapkan aturan jelas tentang apa yang bisa diterima dan apa yang tidak.

  • 7. Kamu memaksa tinggal bersama.

    No image

    Tinggal bersama atau bertukar kunci adalah langkah besar dalam hubungan dan memerlukan kesepakatan bersama. Jika kalian pernah membahas ini dan menyimpulkan waktunya belum tepat, jangan mengungkit soal ini lagi. Hanya apabila ada perubahan situasi maka kamu bisa meminta dia untuk membicarakannya kembali.

  • 8. Kamu sering membicarakan tentang menikah.

    No image

    “Kalau kita menikah, pasti menyenangkan kalau...” Kalian baru berkencan, tapi kamu tidak bisa berhenti membicarakan pernikahan. Jika kalian sudah pernah mendiskusikan rencana pernikahan dalam waktu dekat atau mungkin sudah bertunangan, semangat seperti ini wajar. Kalau tidak, sadari bahwa dia akan merasa ditekan dan mungkin bahkan terancam.

  • 9. Kamu memohon kesempatan untuk memperbaiki diri.

    No image

    Kalian berdebat tentang hal sepele, seperti semua pasangan lain. Bukannya menerima bahwa kedua pihak memiliki poin kelemahan, kamu menyalahkan diri sendiri karena takut ditinggalkan. Akhirnya, kamu menangis dan minta maaf. Cara seperti ini tidak sehat. Dua pihak yang berhubungan harus bisa membagi tanggung jawab dan menyarankan perbaikan bersama.

Published: Sabtu, 18 November 2017